Logo STAIN

merangkai kata menata warna agar kehidupan lebih bermakna

Materi Praktikum Ibadah PGMI 7 mei 2013: Perawatan Jenazah

PERAWATAN JENAZAH

By Ust Sidqon Maesur, Lc, M.A

  1. Pendahuluan:

HAL-HAL YANG DILAKUKAN SETELAH WAFATNYA SESEORANG

Apabila nyawa telah terpisah dari raga secara sempurna, maka yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh orang-orang yang hadir sbb.:

  1. Memejamkan kedua mata si mayit , dengan membaca do’a:

 

اللهم اغفر لفلان ( باسمه) وارفع درجته في المهديين واخلفه في عقبه في الغابرين واغفر لنا وله يا رب العالمين وافسح له في قبره ونور له فيه ( رواه مسلم(.

 

Ya Allah! Ampunilah si fulan (Hendaklah menyebut namanya), angkatlah derajatnya bersama orang-orang yang mendapat petunjuk. Hendaklah engkau menjadikan pengganti untuk anak turunnya (peliharalah mereka), ampunilah kami dan dia wahai Tuhan, Seru sekalian alam, lebarkanlah kuburannya dan berilah penerangannya di dalamnya.” (H. R. Muslim)

  1. Menyelimuti seluruh anggota badan si mayit (ini diperuntukkan bagi orang yang meninggal bukan dalam keadaan ihram).
  2. Bagi orang yang meninggal dalam keadaan sedang ihram, maka kepala dan wajahnya tidak ditutup. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW.:

 

اغسلوا بماء وسدر ، وكفنوا في ثوبين ( وفى رواية : في ثوبيه ) ولا تطيبوا ولا تخمروا رأسه ( ولا وجهه ) فإنه يوم القيامة ملبيا .

 

Mandikanlah dengan air dan bidara, kafanilah dengan kainnya dan janganlah kamu mendandaninya, serta jangan ditutup kepala dan wajahnya, sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah (H. R. Muslim)

  1. Apabila telah jelas akan kematian seseorang, hendaklah dipersiapkan kepengurusannya.
  2. Bersegera menguburkannya, apabila tidak ada faktor penghalang (kepentingan lain, dsb.)
  3. Bersegera menunaikan tanggungan/hutang si mayit (apabila ia punya), meskipun harus mengeluarkan seluruh hartanya. Apabila ia tidak memiliki harta sedikitpun, maka hal ini menjadi tanggungan bagi mereka yang mempunyai wewenang. Hal ini dapat juga diumumkan pada waktu upacara pemberangkatan jenazah, disaat banyak orang berkumpul.

 

  1. B.  MEMANDIKAN JENAZAH

Hal pertama yang dilakukan dalam kepengurusan jenazah adalah dengan memandikannya. Di mana memandikan jenazah menjadi salah satu keharusan/kewajiban kifayah di dalamnya.

Hal-hal yang seyogyanya diperhatikan dalam memandikan jenazah adalah sebagai berikut:

  1. Mempersiapkan alat dan sarana pemandian (bejana tempat air, gayung ataupun selang, papan/meja, sabun, satir sebagai penutup).
  2. Memandikan jenazah dengan air ke seluruh badan sebanyak  tiga kali atau lebih asalkan ganjil hitungannya dan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.
  3. Mayoritas alim ulama berpendapat makruh hukumnya memotong kuku atau rambut apapun dari si mayit.
  4. Di dalam memandikan, dicampur dengan daun bidara (kalau ada) atau dapat diganti dengan sabun.
  5. mencampur air siraman terakhir dengan wewangian, seperti kapur barus dan semisalnya.
  6. Memulai pemandian anggota tubuh bagian kanan jenazah dan anggota-anggota wudlu.
  7. Apabila jenazah laki-laki, yang mengurusi pemandiannya adalah laki-laki, begitu halnya dengan wanita. Namun boleh juga dilakukan oleh suami terhadap istrinya atau istri terhadap suaminya.
  8. Hendaklah pemandian jenazah, diserahkan kepada orang yang ahli dan paham akan tata cara dan seluk beluk pemandian jenazah serta orang yang dapat dipercaya (dapat menyimpan rahasia).

 

Point-point tersebut di atas didasarkan pada sabda Nabi SAW:

 

اغسلها ثلاثا أو خمسا أو أكثر من ذلك إن رأيتن ذلك بماء وسدر واجعله في الآخرة كافورا أو شيئا من كافور وابدأه بميامنها ومواضع الوضوء منها .

Mandikanlah ia tiga kali atau lima kali atau lebih banyak dari itu, jika kalian memandang hal itu (perlu), dengan menggunakan air dan (daun (bidara) dan jadikanlah siraman terakhir dengan air kapur barus atau sejenisnya, dan mulailah (memandikan) anggota tubuh bagian kanan serta anggota-anggota wudlu” (H. R. Bukhari dan Muslim).

 

Tata Cara Memandikan Jenazah:

  1. Membaringkan jenazah di meja / papan yang telah dipersiapkan.
  2. Membersihkan kedua farj (kemaluan depan dan belakang).
  3. Menekan dengan pelan perut jenazah, untuk mengeluarkan kotoran yang ada di dalam tubuh (barangkali ada sesuatu yang akan keluar dari dalam perut).
  4. Memwuudlukan jenazah, dengan niat di dalam hati sbb.:

 

نويت الوضوء أداء عن هذا الميت لله تعالى .

Saya berniat wudlu untuk me;aksanakan kewajiban atas nama mayit ini karena Allah Taala.

  1. Memandikan jenazah di mulai dari anggota tubuh bagian kanan, dari kepala hingga kaki. Kemudian anggota tubuh depan serta belakang secara menyeluruh, menggosokkannya secara pelan dengan air sabun dan semisalnya.

Adapun niat memandikan jenazah, kita membacanya di dalam hati lafadh berikut:

 

نويت الغسل أداء عن هذا الميت لله تعالى .

Aku berniat mandi untuk melaksanakan kewajiban atas nama mayit ini karena Allah Taala.

  1. Mengeringkan seluruh anggota tubuh dengan kain bersih dan kering secara pelan (agar tidak menyakiti mayat).
  2. Membersihkan kuku-kuku jenazah (kaki dan tangan) dengan kapas (tiap satu kapas untuk satu kuku jari).
  3. Lebih disukai menyisir rambut kepala dan jenggot jenazah dengan pelan.
  4. Memberi wewangian pada tubuh jenazah dan menaburinya dengan bedak atau semisalnya.
  5. Menutup kedua mata, lubang hidung dan telinga dengan kapas.

 

  1. C.         MENGKAFANI JENAZAH

 

Setelah jenazah dimandikan secara sempurna dan dibersihkan, kewajiban yang harus dilakukan adalah membungkusnya dengan kain (mengkafaninya). Syarat kain kafan yang digunakan adalah hendaklah ia dapat menutupi dan membungkus semua anggota badan. Hal-hal yang disunahkan dalam kain kafan adalah:

  1. Berwarna putih, sebagaimana sabda Nabi SAW:

 

 البسوا من ثيابكم البياض ، فإنها خير ثيابكم وكفنوا منها .

Pakaikanlah pakaian (dengan) warna putih, sesungguhnya ia merupakan pakaian terbaik bagi kalian serta berkafanlah dengannya” (H. R. Tirmidzi dan Abu Daud).

  1. Diupayakan tiga lembar kain kafan atau lebih sesuai dengan kebutuhan.
  2. Tidak berlebihan dalam mengkafani .
  3. Kain tidak tipis (tembus pandang).

 

Tata Cara Mengkafani :

  1. Mempersiapkan tempat (meja, dipan, dll.) serta peralatan yang diperlukan (gunting, kain kafan, kapas, minyak wangi dll).
  2. Meletakkan tali pengikat minimal pada tiga tempat (atas kepala, tengah, bagian bawah kaki). Jika untuk lebih memperkuat maka bisa tujuh tali pengikat.
  3. Meletakkan/menghamparkan kain kafan paling luar secara memanjang dan sejajar (2 atau 3 lembar kain).
  4. Meletakkan kain lapis kedua, di atas kain kafan paling luar (dalam hal ini, satu lembar untuk menutupi pusar hingga kaki dan satu lembar menutup tubuh bagian atas hingga leher , serta satu lembar sebagai penutup kepala).
  5. Meletakkan/menghamparkan kain, sebagai pelapis paling dalam. Satu lembar dipasang sebagai rompi dan satu lembar untuk celana dalam sarta satu lembar kain sebagai kerudung bagi  mayat wanita.
  6. Mengangkat jenazah, serta meletakkan di atas kain yang telah di tata (posisi tubuh tengadah, kaki lurus dan rapat serta kedua tangan bersedekap di atas pusar).
  7. Memasang kain bagian atas sebagai rompi dan memasang kain bagian bawah sebagai celana dalam serta diikat.
  8. Melilitkan 2 kain sebagai sarung dan penutup tubuh bagian atas.
  9. Menutup seluruh anggota tubuh (dari kepala hingga ujng kaki) dengan kain paling luar.
  10. Mengikatkan tali yang telah dipasang ( jawa: tali wangsul).
  11. Tali pengikat yang digunakan terbuat/berasal dari kain kafan tersebut.

 

Tata cara mengkafani mayit tidak harus persis seperti uraian di atas sebab pada dasarnya mengkafani mayat itu yang terpenting adalah membungkus seluruh jasad sang mayit meskipun hanya dengan satu lembar kain. Akan tetapi disunahkan bagi mayit laki-laki menggunakan tiga lembar kain dan bagi mayit perempuan menggunakan lima lembar kain.

 

  1. D.         MENSHALATI JENAZAH

 

            Shalat jenazah bagi seorang muslim wajib kifayah, yang berarti apabila orang telah melakukannya, maka gugur kewajiban bagi yang lainnya. Akan tetapi kewajiban ini tidak berlaku terhadap dua kelompok:

  1. Anak yang meninggal belum baligh. Hal ini berdasar pada perkataan ummahatul mu’minin Aisyah R. A. :

 

مات إبراهيم بن النبي صلى الله عليه وسلم وهو ابن ثمانية عشر شهرا فلم يصل عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم

Ibrahim bin Nabi SAW. meninggal, sedang umurnya 18 bulan dan beliau Nabi tidak menshalatinya”. (H. R. Abu Daud dan Ahmad)

  1. Orang mati syahid

Meskipun dua kelompok tersebut tidak wajib dishalatkan, tetapi boleh dilakukan (menshalati mereka).

 

Hal-hal yang perlu mendapat perhatian dalam shalat jenazah:

  1. Shalat jenazah berbeda dengan shalat-shalat lain (tanpa rukuk dan sujud).
  2. Memiliki tujuh rukun (niat, berdiri apabila mampu, memiliki 4 takbir, salam, membaca fatihah, membaca shalawat Nabi, do’a bagi mayat).
  3. Boleh shalat sendirian, tetapi semakin banyak jama’ah, semakin utama dan bermanfa’at bagi jenazah. Rasulullah SAW. bersabda:

 

ما من ميت تصلى عليه أمة من المسلمين يبلغون مائة ، كلهم يشفعون له إلا شفعوا فيه .

Tidaklah seorang mayat yang dishalatikan oleh kaum muslimin hingga mencapai 100 orang, setiap dari mereka memohon syafaat untuknya, melainkan ia akan diberi syafaat (H. R. Muslim, Nasa’i)

  1. Shalat jenazah boleh dikerjakan di masjid dan di tempat lain (luar masjid).
  2. Apabila berjama’ah, disunahkan menjadi tiga shaf di belakang imam. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi SAW. :

ما من ميت يموت فيصلى عليه  ثلاثة صفوف من المسلمين إلا أوجب .

Tidaklah seorang mayit yang meninggal dan dishalatkan tiga shaf dari kaum muslimin melainkan akan dikabulkan (keinginan mayit)” (H. R. Abu Daud dan Tirmidzi)

 

 

Tata Cara Shalat Jenazah:

  1. Setelah dikafani, jenazah dibaringkan di depan orang yang akan menshalatinya.
  2. Apabila jenazah laki-laki, disunahkan posisi kepala jenazah di sebelah kirii imam atau di sebelah kiri orang yang menshalati sendirian, dan posisi orang yang shalat di belakang kepala jenazah.
  3. Apabila jenazah perempuan, posisi kepala jenazah di sebelah kanan imam, atau di sebelah kanan orang yang shalat sendirian, sedang posisi orang yang shalat di belakang / di arah pantat jenazah.
  4. Berniat di dalam hati dengan niat sbb.:

 

أصلى على هذا الميت أربع تكبيرات إماما ( مأموما ) فرضا لله تعالى

Aku berniat shalat untuk mayat ini, empat takbir sebagai imam / makmum fardhu karena Allah Taala.

  1. Melakukan takbir pertama (takbiratul ihram), kemudian membaca surat al-Fatihah.
  2. Melakukan takbir kedua, setelah itu membaca shalawat Nabi:

 

اللهم صل على  محمد وعلى آل  محمد  كما صليت على  إبراهيم وعلى آل  إبراهيم وبارك على  محمد وعلى آل محمد كما باركت على  إبراهيم وعلى آل  إبراهيم إنك حميد مجيد

 

Ya Allah, tambahkan rahmat pada junjungan kami Nabi Muhammad SAW. dan kepada keluarganya, sebagaimana engkau telah menambahkan rahmat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berikanlah berkah kepada junjungan kami Nabi Muhammad  serta keluarganya, sebagaimana engkau telah memberi berkah kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Mulia.”

  1. Melakukan takbir ketiga, kemudian membaca do’a:

 

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله .

Ya Allah, ampunilah dosanya, belas kasihanilah dia, selamatkan dan ampunilah dia dan muliakanlah posisinya, lapangkanlah jalan masuknya.”

  1. Sesudah itu, melakukan takbir keempat, kemudian membaca:

 

اللهم لا تحرمنا أجره ولا تفتنا بعده واغفر لنا وله . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Ya Allah, janganlah engkau halangi kami memperoleh pahalanya, dan jangan engkau jadikan fitnah bagi kami sesudahnya, bahkan ampunilah dosa kami dan dosanya. Tuhan kami berikanlah kebaikan di dunia dan kebaikan akhirat, serta jagalah kami dari api neraka.

  1. Kemudian melakukan salam dua kali:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga keselamatan, rahmat dan berkah Allah dilimpahkan kepada-Mu sekalian.

Catatan:

  1. Setiap membaca takbir, disertai mengangkat tangan, khususnya takbir pertama.
  2. Apabila  perempuan maka dhamir atau kata ganti “Hu” diubah menjadi “Haa”, begitupun untuk anak perempuan. Namun jika tidak diganti, maka shalat itu tetap sah.
  3. Apabila jenazah banyak dan terdiri dari laki-laki serta wanita, boleh dishalati satu persatu (kalau memungkinkan), boleh juga dikumpulkan jadi satu. Jenazah laki-laki (meskipun anak kecil) diletakkan di depan imam dan wanita di sebelah jenazah laki-laki.

 

  1. E.          MENGANTAR  JENAZAH KE KUBURAN

 

            Sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan seorang muslim adalah mengikuti jenazah dari rumah duka sampai kuburan, karena Nabi Muhammad SAW. bersabda:

 

حق المسلم على المسلم ( وفى رواية : يجب للمسلم على أخيه ) خمس : رد السلام وعيادة المريض ، واتباع الجنائز ، وإجابة الدعوة وتشميت العاطس

Hak seorang muslim atas muslim lainnya (dalam sebuah riwayat: kewajiban seorang muslim atas saudaranya) ada lima: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengikuriti jenazah, mendatangi undangan dan mendoakan orang yang bersin.” (H. R. Bukhari, Muslim).

Dalam mengikuti dan mengantar jenazah harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengikuti jenazah tidak boleh menyimpang dari syarat yang telah ditentukan seperti; mengeraskan suara dengan tangisan, serta membakar dupa/kemenyan. Hal ini didasarkan kepada hadis Rasulullah, bahwasannya beliau bersabda:

 

لا تتبع الجنازة بصوت و لا نار

Janganlah kamu mengikuti jenazah dengan suara ( keras )dan api (H. R. Abu Daud, Ahmad).

  1. Disunahkan cepat dalam membawa jenazah (bukan berarti lari).
  2. Boleh berjalan di depan dan di belakang jenazah, di samping kiri dan kanannya akan tetapi dekat dengan posisi jenazah. Adapun pengiring yang mengendarai kendaraan berada dibelakang jenazah.

Rasulullah bersabda:

 

الراكب خلف الجنازة والماشى حيث شاء منها خلفها وأماماها ، وعن يمينها  وعن يسارها قريبا منها . ( رواه أبو داود والترمذى )

 

Pengendara kendaraan (berjalan) di belakang jenazah dan orang yang berjalan (berjalan) dimana ia suka (di belakang jenazah dan depannya, di arah kanan dan kiri jenazah, dekat dengannya (H. R. Abu Daud dan Tirmidzi).

  1. Meskipun berjalan di depan dan di belakang jenazah diperbolehkan, akan tetapi yang paling utama adalah berjalan di belakangnya.
  2. Boleh berkendaraan, tetapi berjalan pelan di belakang jenazah, akan tetapi yang paling utama adalah dengan berjalan.
  3. Disunahkan bagi orang yang memikul (membawa jenazah) untuk berwudlu, sebagaimana sabda Nabi SAW.:

 

من غسل ميتا فليغتسل ومن حملها فليتوضأ ( رواه أبو داود والترمذى )

Barang siapa habis / selesai memandiakan jenazah, hendaklah ia mandi, dan barang siapa habis membawa jenazah, maka hendaklah ia berwudlu. (H. R. Abu Daud dan Tirmidzi)

  1. Termasuk sunnah bagi pengantar jenazah, setelah sampai di pintu kubur, mengucapkan:

 

السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله بكم لاحقون،  أسأل الله لنا ولكم العافية ( رواه مسلم ) .

Semoga kesejahteraan untukmu, wahai penghuni kampung  orang-orang mukmin dan muslim. Sesungguhnya kami insya Allah akan menyusulmu, kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu semua agar diberi sentausa ” (H. R. Muslim)

 

  1. F.          MENGUBUR JENAZAH

 

Perkara-perkara yang perlu diperhatikan:

  1. Menyediakan peralatan yang dibutuhkan (misalnya: cangkul, papan dan kayu).
  2. Termasuk sunnah, menguburkan jenazah di tanah pekuburan (kecuali orang yang mati syahid dalam peperangan, ia di kubur di tempat ia mati syahid dan tidak di pindah ke tanah pekuburan).
  3. Lubang kuburan dibuat dalam, luas serta bagus.
  4. Kuburan bisa dibuat dua macam; liang lahad dan syaq.

Lahad: galian di tepi lubang kubur di sebelah barat / kiblat bagian bawah.

Syaq: galian kubur ke bawah seperti sungai.

  1. Apabila tanah keras, maka dapat dibuat lubang kuburan lahad. Sedang untuk tanah gembur menggunakan model syaq.

 

Tata Cara Mengebumikan jenazah:

  1. Membuat lubang kuburan minimal cukup untuk mayat / jenazah yang akan dibaringakan.
  2. Diusahakan lubang kuburan dibuat agak luas dan dalam (kedalaman ± 4 dzira’  atau setinggi orang yang berdiri di dalamnya ditambah satu hasta atau ± 225 cm), lubang menghadap arah utara-selatan.
  3. Membuat bantal yang berbentuk bulat (Bahasa jawa: geluh).
  4. Setelah gendosa (tempat pembawa ) dekat lubang, maka dengan pelan-pelan gendosa tersebut diletakkan di atas tanah (tepi lubang kubur).
  5. Jenazah diangkat dan dimasukkan ke dalam lubang kubur dengan posisi kepala pada lubang kubur bagian utara (membujur ke utara).
  6. Jenazah diletakkan / dibaringkan, dan geluh dipasang di kedua sisi (leher).
  7. Dalam membaringkan jenazah disertai bacaan:

 

بسم الله وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ( رواه داود والترمذى )

Dengan nama Allah dan dengan atas nama agama Rasulullah SAW. (H. R. Abu Daud dan Tirmidzi)

  1. Setelah jenazah dibaringkan, tali-tali pengikat kafan dilepas dan jenazah dimiringkan menghadap kiblat (posisi seperti orang mengerjakan shalat, kepala diletakkan di atas tanah kuburan serta kafan pada pipi kanan dibuka dan disentuhkan pada tanah liang kubur).
  2. Kepala dan kaki dihimpitkan pada tepian lubang kubur bagian barat sedang punggung disangga (diganjal) dengan geluh agar supaya tidak terbalik terlentang.
  3. Pasang papan yang telah disediakan di atas  mayat, agar jenazah itu tidak langsung tertimbun oleh tanah.
  4. Sebelum penimbunan tanah dilakukan, sunnat dimulai dengan menaburkan tanah dengan dua tangan ke arah bagian kepala jenazah sebanyak tiga kali sebagaimana hal ini dilakukan oleh Rasulullah SAW.:

 

أنه رسول الله صلى الله عليه وسلم صلى على جنازة ، ثم أتى الميت فحشى عليه من قبل رأسه ثلاثا

Bahwasannya Rasulullah menshalati jenazah kemudian datang (dikubur) jenazah tersebut dan beliau menaburkan (tanah) ke arah kepalanya sebanyak tiga kali (H. R. Ibnu Majah).

Taburan pertama diiringi dengan mengucapkan منها خلقناكم . Taburan kedua dengan membaca وفيها نعيدكم . Taburan ketiga dengan membaca ومنها نخرجكم تارة أخرى .

  1. 12.  Dilakukan penimbunan dengan tanah hingga sempurna dan meletakkan nisan di bagian atas kuburan.

SUNAH-SUNAH SETELAH PENGUBURAN:

  1. Meninggikan gundhukan kuburan secara merata dan tingginya sekitar saru jengkal dari tanah.
  2. Memberi tanda pada kuburan dengan batu nisan dan semisalnya agar dikenal bahwa itu kuburan.
  3. Berdiri atau jongkok di atas kuburan serta mendoakan jenazah yang yang telah dikubur dengan ampunan dan ketetapan iman, sebagaimana sabda beliau SAW.:

 

  1. استغفروا لأخيكم وسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل .
  2. Mintakanlah ampunan dan ketetapan iman untuk saudaramu, karena sekarang dia sedang ditanya” (H. R. Abu Daud).
  3. Atau salah seorang boleh duduk di dekat kuburan, dengan maksud memberi peringatan kepada hadirin tentang kematian dan kejadian setelahnya.

والله أعلم

 

  1. G.          PENUTUP

Demikianlah, petunjuk dan tata cara praktis yang berkaitan dengan penyelenggaraan jenazah. Semoga risalah ringkas ini bermanfa’at bagi kita sebagai individu dan masyarakat dalam upaya melakukan ibadah kepada Allah AWT. Kita mohon kepada Allah agar kita senantiasa ditetapkan dalam agama ini dan ditunjukkan ke jalan yang  lurus. Amin.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

-تقى الدين أبى بكر بن محمد الحسينى ، كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار ، مكتبة ومطبعة طه فوترا سماراع .

-عبد العظيم بن بدوى ، الوجيز في فقه السنة والكتاب العزيز ، دار ابن رجب

-محي الدين أبى زكريا يحيى بن شرف النووى ، الأذكار النووية ،  دار الفكر بيروت لبنان

-محمد بن قاسم الغزى الشافعى ، فتح القريب المجيب شرح كتاب التقريب

-محمد ناصر الدين الأالبانى ، أحكام الجنائز وبدعها ،المكتب الإسلامى

سيد سابق ، فقه السنة ، المجلد الأول ، دار الفكر

 

-Abdullah Shonhaji, Pershalatan Lengkap, Semarang, toko Kitab al-Munawar

Leave a Reply